Perpustakaan Asesmen

Asesmen Digital untuk Memahami Kondisi Individu

Pilih instrumen sesuai kebutuhan. Setiap asesmen dikerjakan melalui akun AsesmenKu, kemudian hasil akan diproses menjadi skor, kategori, interpretasi, dan rekomendasi.

Katalog Instrumen Aktif

Daftar ini membaca instrumen aktif langsung dari Instrument Builder AsesmenKu.

Akademik Rp3.000

Academic Burnout Mahasiswa

Academic Burnout adalah kondisi individu yang mengalami kelelahan secara emosional dan fisik dan dipicu oleh beban dan tanggung jawab di bidang akademik. Academic Burnout dapat diwujudkan dengan penurunan kepuasan terhadap prestasi diri, penghindaran terhadap tugas-tugas, serta gejala tekanan mental, kegelisahan, hingga depresi. Oleh karena itu, instrumen ini disusun untuk mengukur individu yang mengalami academic burnout, khsusunya pada mahasiswa.

18 item ± 10 menit Mahasiswa
Masuk untuk Memulai
Mental & Emosi Rp3.000

Body Dysmorphic Disorder

Instrumen Body Dysmorphic Disorder (BDD) digunakan untuk mengukur kecenderungan individu mengalami kekhawatiran berlebihan terhadap kekurangan atau ketidaksempurnaan pada penampilan fisik, baik yang nyata maupun yang dipersepsikan. Instrumen ini mengukur beberapa aspek utama, yaitu perhatian berlebihan terhadap penampilan, penilaian negatif terhadap tubuh, perilaku memeriksa atau menyamarkan kekurangan fisik, serta dampaknya terhadap kehidupan sosial dan aktivitas sehari-hari. Pilihan respons berkisar dari Sangat Sesuai hingga Sangat Tidak Sesuai. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin tinggi kecenderungan individu mengalami gejala Body Dysmorphic Disorder.

23 item ± 10 menit Remaja
Masuk untuk Memulai
Mental & Emosi Rp3.000

Body Shaming

Instrumen Body Shaming digunakan untuk mengukur kecenderungan individu dalam mengalami dampak negatif akibat komentar, penilaian, atau perlakuan yang berkaitan dengan bentuk dan kondisi tubuh. Instrumen ini mengukur dua aspek utama, yaitu external body shaming dan internal body shaming, yang mencakup komentar negatif, tekanan sosial, penghindaran kontak sosial, rendah diri, serta persepsi negatif terhadap diri sendiri. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin tinggi kecenderungan individu mengalami body shaming beserta dampak psikologis dan sosial yang menyertainya.

29 item ± 10 menit Remaja
Masuk untuk Memulai
Sosial Rp3.000

Dukungan Sosial Teman Sebaya

Instrumen Dukungan Sosial Teman Sebaya digunakan untuk mengukur sejauh mana individu merasa memperoleh dukungan, penerimaan, perhatian, dan bantuan dari teman sebayanya. Instrumen ini mengukur empat aspek utama, yaitu dukungan emosional, dukungan informasional, validasi perasaan dan pengalaman, serta hubungan yang mutual dan setara, dengan pilihan respons mulai dari Sangat Sesuai hingga Sangat Tidak Sesuai. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin tinggi tingkat dukungan sosial teman sebaya yang dirasakan oleh individu.

30 item ± 10 menit Remaja
Masuk untuk Memulai
Mental & Emosi Rp3.000

Efikasi Diri

Instrumen Efikasi Diri digunakan untuk mengukur tingkat keyakinan individu terhadap kemampuan dirinya dalam menghadapi berbagai tuntutan, menyelesaikan tugas, mengatasi hambatan, serta mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Instrumen ini menggambarkan sejauh mana individu merasa mampu bertindak secara efektif ketika menghadapi situasi yang mudah maupun sulit. Efikasi diri diukur melalui tiga aspek utama, yaitu level yang berkaitan dengan tingkat kesulitan tugas yang diyakini mampu dihadapi, strength yang menunjukkan kekuatan keyakinan individu terhadap kemampuannya, dan generality yang menggambarkan keluasan penerapan keyakinan tersebut dalam berbagai situasi. Pilihan respons pada instrumen ini menggunakan rentang dari Sangat Sesuai hingga Sangat Tidak Sesuai. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin tinggi pula tingkat efikasi diri individu dalam menghadapi tugas, tantangan, dan berbagai situasi kehidupan.

19 item ± 10 menit Remaja
Masuk untuk Memulai
Keluarga Rp3.000

Fatherless

Instrumen Fatherless digunakan untuk mengukur sejauh mana anak atau remaja mengalami keterbatasan atau ketidakhadiran peran ayah dalam kehidupan sehari-hari. Fatherless tidak hanya merujuk pada ketidakhadiran ayah secara fisik, tetapi juga dapat menggambarkan minimnya keterlibatan, dukungan, kedekatan, aksesibilitas, serta tanggung jawab ayah terhadap perkembangan anak. Instrumen ini diisi oleh anak atau remaja berdasarkan pengalaman dan persepsi mereka terhadap hubungan serta peran ayah dalam kehidupan sehari-hari.

32 item ± 10 menit Remaja
Masuk untuk Memulai
Mental & Emosi Rp3.000

FEAR OF MISSING OUT

Instrumen Fear of Missing Out (FoMO) digunakan untuk mengukur kecenderungan individu merasa khawatir tertinggal informasi, aktivitas, pengalaman, atau momen yang dialami orang lain, terutama dalam penggunaan media sosial. Instrumen ini mengukur tiga aspek utama, yaitu autonomy, competence, dan relatedness, dengan pilihan respons mulai dari Sangat Sesuai hingga Sangat Tidak Sesuai. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin tinggi kecenderungan FoMO pada individu.

19 item ± 10 menit Remaja
Masuk untuk Memulai
Mental & Emosi Rp3.000

Glossophobia

Instrumen Glossophobia digunakan untuk mengukur tingkat kecemasan atau ketakutan individu ketika berbicara di depan umum atau berada dalam situasi yang menuntut penyampaian pendapat di hadapan orang lain. Instrumen ini mengukur respons individu yang berkaitan dengan aspek kognitif, emosional, fisiologis, dan perilaku dalam situasi public speaking, dengan pilihan respons mulai dari Sangat Sesuai hingga Sangat Tidak Sesuai. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin tinggi tingkat glossophobia atau kecemasan berbicara di depan umum pada individu.

33 item ± 10 menit
Masuk untuk Memulai
Perilaku Rp3.000

Hedonisme

Instrumen Hedonisme digunakan untuk mengukur tingkat kecenderungan individu dalam menjadikan kesenangan, kepuasan, dan kenikmatan hidup sebagai orientasi dalam aktivitas, minat, serta pandangannya terhadap kehidupan. Instrumen ini disusun dengan mengacu pada konsep Activities, Interests, and Opinions (AIO) dari Wells dan Tigert (1971). Dalam kerangka tersebut, gaya hidup individu dapat dipahami melalui tiga aspek utama, yaitu aktivitas (activities), minat (interests), dan opini (opinions). Ketiga aspek tersebut juga telah digunakan dalam penelitian psikologi di Indonesia untuk mengoperasionalkan perilaku hedonis.

22 item ± 10 menit Remaja
Masuk untuk Memulai
Akademik Rp3.000

Kecemasan Belajar

Instrumen Kecemasan Belajar digunakan untuk mengukur tingkat kecemasan yang dialami individu dalam situasi belajar, yang ditandai oleh munculnya perasaan takut, tegang, gelisah, kekhawatiran, gangguan konsentrasi, reaksi fisik, serta kecenderungan menghindari situasi belajar tertentu. Instrumen ini disusun berdasarkan konsep kecemasan dari Clark dan Beck (2010) yang mencakup empat aspek, yaitu afektif, fisiologis, kognitif, dan perilaku. Aspek afektif berkaitan dengan kegelisahan dan ketakutan dalam menghadapi masalah belajar; aspek fisiologis berkaitan dengan reaksi tubuh seperti gemetar, kaku, dan jantung berdebar; aspek kognitif berkaitan dengan kesulitan berkonsentrasi dan kebingungan dalam berpikir; sedangkan aspek perilaku berkaitan dengan kecenderungan menghindari situasi yang menimbulkan kecemasan. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin tinggi tingkat kecemasan belajar yang dialami individu.

17 item ± 10 menit Remaja
Masuk untuk Memulai
Mental & Emosi Rp3.000

Kecerdasan Emosional

Instrumen Kecerdasan Emosional merupakan alat ukur yang digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan individu dalam mengenali dan memahami emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri, mengenali emosi orang lain, serta membina hubungan sosial secara efektif. Instrumen ini disusun berdasarkan aspek kecerdasan emosional yang dikemukakan oleh Goleman, yaitu mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri, mengenali emosi orang lain, dan membina hubungan dengan orang lain. Hasil pengukuran dapat digunakan untuk memberikan gambaran mengenai tingkat kecerdasan emosional individu sebagai dasar dalam memahami kemampuan pengelolaan emosi dan penyesuaian diri dalam kehidupan akademik maupun sosial.

19 item ± 10 menit Remaja
Masuk untuk Memulai
Akademik Rp3.000

Kedisiplinan Belajar

Instrumen Kedisiplinan Belajar digunakan untuk mengukur tingkat kepatuhan dan keteraturan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar serta menaati aturan yang berlaku di sekolah. Instrumen ini mengukur dua aspek utama, yaitu disiplin waktu dan disiplin perilaku. Disiplin waktu mencakup ketepatan waktu belajar, penyelesaian tugas sesuai jadwal, dan ketidakhadiran tanpa alasan, sedangkan disiplin perilaku mencakup kepatuhan terhadap peraturan, kerajinan dalam belajar, serta perilaku yang baik. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin tinggi tingkat kedisiplinan belajar siswa.

23 item ± 10 menit Remaja
Masuk untuk Memulai
Mental & Emosi Rp3.000

Kematangan Emosi Mahasiswa

Instrumen kematangan emosi digunakan untuk mengukur kemampuan mahasiswa dalam memahami, mengendalikan, dan mengekspresikan emosi secara tepat ketika menghadapi berbagai situasi dan permasalahan. Kematangan emosi tercermin dari kemampuan individu untuk mengarahkan emosi secara adaptif, tidak bereaksi secara berlebihan, serta mampu menghadapi masalah dengan pertimbangan yang baik. Pengukuran dilakukan melalui aspek kemandirian, kemampuan menerima kenyataan, kemampuan beradaptasi, kemampuan merespons secara tepat, keseimbangan emosional, empati, serta kemampuan menguasai amarah.

53 item ± 10 menit Mahasiswa
Masuk untuk Memulai
Mental & Emosi Rp3.000

Kematangan Emosi Siswa

Instrumen Kematangan Emosi Siswa digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam memahami, mengendalikan, mengekspresikan, dan mengelola emosi secara tepat sesuai dengan situasi yang dihadapi. Instrumen ini menggambarkan sejauh mana siswa mampu bersikap stabil secara emosional, mengendalikan reaksi emosinya, menerima keadaan diri maupun lingkungan, serta merespons berbagai permasalahan secara lebih matang. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin tinggi tingkat kematangan emosi siswa.

20 item ± 10 menit Siswa
Masuk untuk Memulai
Sosial Rp3.000

Komunikasi Interpersonal

Instrumen Komunikasi Interpersonal digunakan untuk mengukur kemampuan individu dalam membangun dan mempertahankan komunikasi yang efektif dengan orang lain melalui penyampaian pikiran, perasaan, dan tanggapan secara terbuka serta saling menghargai. Instrumen ini mengukur lima aspek utama, yaitu keterbukaan (openness), empati (empathy), sikap mendukung (supportiveness), sikap positif (positiveness), dan kesetaraan (equality). Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin baik kemampuan komunikasi interpersonal individu dalam berinteraksi dengan orang lain.

30 item ± 10 menit Remaja
Masuk untuk Memulai
Mental & Emosi Rp3.000

Meaning of Life

Instrumen Meaning of Life digunakan untuk mengukur sejauh mana individu merasakan bahwa hidupnya memiliki makna, tujuan, dan nilai, serta sejauh mana individu berupaya mencari dan menemukan makna dalam kehidupannya. Instrumen ini mengukur dua aspek utama, yaitu Presence of Meaning dan Search for Meaning, dengan pilihan respons mulai dari Sangat Sesuai hingga Sangat Tidak Sesuai. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin kuat kebermaknaan hidup dan kecenderungan individu dalam mencari serta menemukan makna dalam kehidupannya.

36 item ± 10 menit Remaja
Masuk untuk Memulai
Perilaku Rp3.000

Perilaku Agresif

Instrumen Perilaku Agresif digunakan untuk mengukur kecenderungan individu menampilkan perilaku yang dapat menyakiti, merugikan, atau menimbulkan ketidaknyamanan terhadap orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Instrumen ini mengukur empat aspek utama, yaitu agresif fisik, agresif verbal, amarah, dan permusuhan. Aspek tersebut mencakup perilaku seperti memukul, mendorong, menendang, merampas, menghina, memarahi, menyebarkan gosip, penolakan, balas dendam, mudah marah, iri hati, dan prasangka buruk. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin tinggi kecenderungan individu menunjukkan perilaku agresif.

72 item ± 10 menit Remaja
Masuk untuk Memulai
Perilaku Rp3.000

Perilaku Phubbing

Instrumen Perilaku Phubbing digunakan untuk mengukur kecenderungan individu mengabaikan orang lain dalam interaksi sosial karena lebih memusatkan perhatian pada smartphone. Instrumen ini mengukur empat aspek utama, yaitu kecanduan smartphone, kecanduan internet, kecanduan media sosial, dan kecanduan permainan, dengan pilihan respons mulai dari Sangat Sesuai hingga Sangat Tidak Sesuai. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin tinggi kecenderungan perilaku phubbing pada individu.

43 item ± 10 menit Remaja
Masuk untuk Memulai
Mental & Emosi Rp3.000

Psychological Well-Being

Instrumen Psychological Well-Being (PWB) digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan psikologis individu dalam menjalani kehidupan, yang tercermin dari kemampuan menerima diri, membangun hubungan positif, bersikap mandiri, mengelola lingkungan, memiliki tujuan hidup, serta terus bertumbuh dan berkembang secara pribadi. Instrumen ini mengukur enam aspek utama, yaitu Self-Acceptance, Positive Relations with Others, Autonomy, Environmental Mastery, Purpose in Life, dan Personal Growth. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin tinggi tingkat psychological well-being individu.

39 item ± 10 menit Remaja
Masuk untuk Memulai
Mental & Emosi Rp3.000

Regulasi Emosi

Instrumen Regulasi Emosi digunakan untuk mengukur kemampuan individu dalam mengenali, memahami, menerima, dan mengelola emosi yang dirasakan agar tetap mampu berpikir dan bertindak secara adaptif. Instrumen ini mengukur enam aspek utama, yaitu kesadaran emosi, kejelasan emosi, penerimaan emosi, pengendalian impuls, pengelolaan emosi, dan kemampuan bertindak sesuai tujuan, dengan pilihan respons mulai dari Sangat Sesuai hingga Sangat Tidak Sesuai. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin baik kemampuan regulasi emosi pada individu.

20 item ± 10 menit Remaja
Masuk untuk Memulai
Sosial Rp3.000

Relation Aggression

Instrumen Relational Aggression digunakan untuk mengukur kecenderungan individu melakukan agresi secara tidak langsung melalui hubungan interpersonal, seperti memanipulasi hubungan, mengucilkan orang lain, atau menyebarkan rumor. Instrumen ini mengukur tiga aspek utama, yaitu manipulasi hubungan interpersonal, pengucilan sosial, dan penyebaran rumor, dengan pilihan respons sesuai skala yang digunakan. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin tinggi kecenderungan relational aggression pada individu.

21 item ± 10 menit Remaja
Masuk untuk Memulai
Mental & Emosi Rp3.000

Resiliensi Pasca Bencana

Instrumen Resiliensi Pasca Bencana digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam menghadapi, menyesuaikan diri, dan bangkit kembali setelah mengalami bencana. Instrumen ini mengukur tujuh aspek utama, yaitu Emotion Regulation, Impulse Control, Optimism, Causal Analysis, Empathy, Self-Efficacy, dan Reaching Out. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin tinggi tingkat resiliensi siswa pasca bencana.

43 item ± 10 menit Siswa Pasca Bencana
Masuk untuk Memulai
Mental & Emosi Rp3.000

Self Blaming

Instrumen Self Blaming digunakan untuk mengukur kecenderungan individu menyalahkan diri sendiri ketika menghadapi pengalaman, peristiwa, atau kondisi yang dianggap negatif. Instrumen ini mengukur dua aspek utama, yaitu rasa malu (shame) dan rasa bersalah (guilt), yang mencakup kecenderungan menarik diri, mengevaluasi penilaian negatif terhadap diri, mengevaluasi perilaku negatif, serta melakukan perbaikan diri. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin tinggi kecenderungan self blaming pada individu.

15 item ± 10 menit Remaja
Masuk untuk Memulai
Mental & Emosi Rp3.000

Self Confidence

Instrumen Self Confidence digunakan untuk mengukur tingkat kepercayaan diri individu dalam meyakini kemampuan diri, menghadapi berbagai situasi secara positif, mengambil keputusan, serta bertanggung jawab terhadap tindakan yang dilakukan. Instrumen ini disusun dengan mengacu pada konsep kepercayaan diri dari Lauster, yang memandang kepercayaan diri sebagai sikap atau keyakinan individu terhadap kemampuan dirinya sehingga mampu bertindak secara mandiri, optimis, objektif, bertanggung jawab, serta menggunakan pertimbangan yang rasional dan realistis. Dalam konsep Lauster, kepercayaan diri tercermin melalui lima aspek, yaitu yakin terhadap kemampuan diri, optimis, objektif, bertanggung jawab, serta rasional dan realistis.

36 item ± 10 menit remaja
Masuk untuk Memulai
Mental & Emosi Rp3.000

Self-Esteem

Instrumen harga diri (self-esteem) digunakan untuk mengukur penilaian individu terhadap dirinya sendiri, baik secara positif maupun negatif. Pengukuran dilakukan melalui dua aspek utama, yaitu penerimaan diri (self-liking) dan penghormatan diri (self-competence). Penerimaan diri diukur melalui indikator kemampuan menerima diri apa adanya, merasa puas terhadap diri sendiri, merasa dihargai oleh orang lain, merasa bermanfaat, serta menyadari kelebihan yang dimiliki. Sementara itu, penghormatan diri diukur melalui indikator keyakinan bahwa individu mampu melakukan apa yang dapat dilakukan orang lain dan memandang dirinya sebagai pribadi yang berhasil. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin positif harga diri individu.

26 item ± 10 menit Remaja
Masuk untuk Memulai
Keluarga Rp3.000

Sibling Relationship Questionaire

Instrumen Sibling Relationship Questionnaire digunakan untuk mengukur kualitas hubungan persaudaraan anak dalam lingkungan keluarga berdasarkan penilaian orang tua. Instrumen ini mengukur lima aspek utama, yaitu kecemburuan, agresivitas, perilaku prososial atau kooperatif, persahabatan, serta pendapat orang tua mengenai hubungan antar anak, dengan pilihan respons yang telah disediakan sesuai dengan keadaan anak di rumah. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin positif kualitas hubungan persaudaraan anak

26 item ± 10 menit Orang tua
Masuk untuk Memulai
Mental & Emosi Rp3.000

Stres

Instrumen Stres digunakan untuk mengukur tingkat tekanan yang dirasakan individu ketika menghadapi tuntutan, masalah, atau situasi yang menantang dalam kehidupan sehari-hari. Instrumen ini mengukur empat aspek utama, yaitu fisiologis, kognitif, emosi, dan tingkah laku, yang menggambarkan respons tubuh, pola pikir, kondisi perasaan, serta perilaku individu saat mengalami tekanan. Pilihan respons dapat menggunakan rentang dari Sangat Sesuai hingga Sangat Tidak Sesuai. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin tinggi tingkat stres yang dialami individu.

28 item ± 10 menit Remaja
Masuk untuk Memulai
Keluarga Rp3.000

Toxic Paranting

Instrumen Toxic Parenting digunakan untuk mengukur kecenderungan perilaku pengasuhan toksik yang dilakukan orang tua terhadap anak. Instrumen ini mengukur tiga aspek utama, yaitu orang tua yang suka mengontrol atau menjadikan anak sebagai sarana pemenuhan keinginan orang tua, orang tua yang mengabaikan kebutuhan anak, dan orang tua yang merendahkan atau menghina anak, dengan pilihan respons mulai dari Sangat Sesuai hingga Sangat Tidak Sesuai. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin tinggi kecenderungan toxic parenting yang dialami individu.

15 item ± 10 menit Orang Tua
Masuk untuk Memulai
Akademik Rp3.000

Writing Apprehension

Instrumen Ketakutan Menulis (Writing Apprehension) digunakan untuk mengukur kecenderungan individu merasa takut, cemas, tidak nyaman, atau menghindari aktivitas menulis, terutama ketika tulisan akan dinilai atau dibaca oleh orang lain. Instrumen ini mengukur empat aspek utama, yaitu kecemasan dan penghindaran terhadap aktivitas menulis, kecemasan terhadap evaluasi dan penerimaan tulisan, sikap dan afeksi terhadap aktivitas menulis, serta persepsi terhadap kemampuan menulis, dengan pilihan respons mulai dari Sangat Setuju hingga Sangat Tidak Setuju. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin tinggi kecenderungan ketakutan menulis pada individu.

26 item ± 10 menit Remaja
Masuk untuk Memulai
Apa yang Anda Dapatkan?

Hasil yang Lebih dari Sekadar Skor

01

Skor Otomatis

Jawaban diproses sesuai aturan skoring instrumen.

02

Kategori Hasil

Skor dicocokkan dengan norma atau kategori yang tersedia.

03

Interpretasi

Hasil dilengkapi penjelasan agar lebih mudah dipahami.

04

Laporan PDF

Laporan profesional tersedia sebagai layanan tambahan.